Merdeka Belajar dalam Islam
Spread the love

Oleh: M. Rudi Akbar, SE (Kepala Tata Usaha SMP Plus Al Athiyah)

Juara 1 lomba menulis pada perayaan hari PGRI tahun 2020

Ada banyak problem di dunia pendidikan dan problem kualitas output pendidikan yang menjadi salah satu masalah. Menurut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan                      (Mendikbud) Nadim Makarim ada 4 (empat)  pokok kebijakan dalam program “Merdeka Belajar”. Meliputi Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN), Ujian Nasional (UN), Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Peraturan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Zonasi. Dan Pak menteri memaknai merdeka belajar sama dengan merdeka berfikir dimulai dari guru yang diturunkan untuk ditanamkan ke siswa.

Sebagaimana yang yang disampaikan Nadiem Makarim terkaid Ujian nasional (UN) hanya menuntut siswa menghafal seluruh pelajaran. Jadi kesannya, anak harus menghafal ketika diujung kenaikan kelas. Hal ini dilakukan agar anak bisa mencapai nilai yang tinggi. Penghafalan itu menurut Pak menteri hanya menyentuh aspek memori saja. Untuk itu UN memang tidak dihapus namun diganti dengan asesmen kompetensi.sebab denga asesmen siswa tidak lagi menghafal, melainkan ada aspek kognitif siswa yang dites. Kognitif yang dimaksud adalah penalaran dan pemahaman siswa atas mata pelajaran yang dimaksud. Dan asesmen kompetensi minimum dan survey karakter ini akan diterapkan pada tahun 2021.

Metode merdeka berfikir ini yang ini dicapai melalui inovasi itu juga tidak bisa lepas dari cara berfikir yang kritis. Sedangkan berfikir kritis itu ditinjau dari informasi yang tersimpan dalam pikiran, itulah dengan cara menghafal. Berbeda dengan kurikulum pendidikan dalam islam. Dimana dalam sistem pendidikan islam yang diterapkan oleh Negara adalah sistem yang secara keseluruhan terpancar dari akidah islam. Dalam islam tujuan pendidikan, struktur kurikulum dan peranan Negara dalam bidang pendidikan harus sesuai dengan tuntutan syariah islam.

Tujuan pendidikan yang deselenggarakan oleh Negara islam adalah untuk membentuk kepribadian islam bagi setiap muslim serta membekali dirinya dengan berbagai ilmu dan pengetahuan yang berkaitan dengan kehidupan. Dan kurikulum pendidikan dalam Negara islam dibagi dalam tiga komponen yaitu: pertama: pembentukan kepribadian Islam, kedua: penguasaan tsaqofah islam, dan yang ketiga: penguasaan ilmu kehidupan seperti: sains dan teknologi, kepakaran serta kemahiran.

Belajar merdeka sebenarnya dimiliki dalam konsep Taman Siswa, sekolah diidentikan sebagai sebuah tempat yang nyaman, membahagiakan, segar, sejuk, bagi para siswa. Jadi tempat ini adalah tempat menyenangkan dan nyaman untuk proses belajar seorang anak. Dalam psikologi pendidikan, ketika anak sudah dalam kondisi bahagia, sudah mencintai pendidiknya, maka anak didik dengan mudah menyerap pelajaran, dia bisa belajar dengan maksimal.

Disini pelajaran yang diajarkan guru tidak semua diminati siswa. Jadi jelas disebagian pelajaran keadaan kelas tidak seperti taman (taman siswa). Pelajar belajar tidak dalam keadaan bahagia, keadaan yang bisa jadi membuat anak dalam kondisi tertekan, belum lagi beban pekerjaan rumah (PR), tugas tambahan, persiapan ujian semester, persiapan ujian akhir semester les prifat sore hari, dll. Jadi anak lebih terkondisikan untuk stress atau akhirnya malah abai. Karena merasa tidak nyaman anak setiap pagi memang berangkat tapi hanya berangkat saja, masalah belajar atau tidak tidak ada nilainya sama sekali untuk dia, menikmati bisa bertemu dengan teman sekelas, bisa hang out setelah selesai kelas, nongkrong di Kafe dan lain-lain. Sekolah menjadi tempat untuk membuang umur saja.

Bagaimana dengan Islam sendiri?, Apakah pendidikan dalam Islam adalah pendidikan yang merdeka atau pendidikan yang kaku?. Kita tidak bisa menghukumi begitu saja, karena bisa jadi islam sudah menawarkan pendidikan merdeka tapi hal itu tidak disadari atau tidak dipraktikkan. Dalam Islam hal yang pertama adalah belajar seputar aqidah, pelajaran aqidah sendiri lebih mengungkap apa yang sudah ada dalam benak, secara fitrah dimiliki masing-masing manusia. Setelah itu baru ada rasa perlu untuk belajar fikih serta ilmu yang lain, itu pun dalam koridor kebebasan, siapa yang ingin belajar maka dipersilahkan, jika tidak belajar tidak ada denda atau hukuman.

Pada kesempatan kali ini mari kita telaah ayat dari surat Al’alaq [96] ayat 4-5

ٱلَّذي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ

yang mengajar (manusia) dengan perantara kalam.

عَلَّمَ الْإِنْسانَ ما لَمْ يَعْلَمْ

Dia telah mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

Pengajar utama dalam ayat diatas adalah Allah swt, pengajar dalam arti salah satunya dengan transfer ilmu. Transfer ilmu tanpa cacat, sesuai kadar yang dimiliki manusia. Nabi Muhammad saw sebagai manusia paling sempurna memiliki kesempatan ditransfer ilmu berupa Qur’an, sebuah ringkasan ilmu untuk semua jenis jalan hidayah manusia menemukan jalan Tuhan. Sebuah ilmu yang tidak jarang menyangkut bidang-bidang ilmu yang lain. Hudan lil muttaqin, petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa, orang bertaqwa disini tidak melulu dari ahli sejarah, bisa juga dari ahli fisika, ahli fikih, ahli ilmu kalam, ahli nuklir, ahli digital, dan ahli-ahli disegala bidang lainnya. Jadi Qur’an juga bisa memberi hidayah sesuai bidang keilmuan semua orang.

Dari sini dapat dipahami bahwa transfer keilmuan dari Allah kepada Nabi saw adalah hal fenomenal, sangat luar biasa. Apakah ini hanya khusus bagi para Nabi?. Poin penting disini adalah bahwa proses belajar disini pada mulanya dilakukan oleh sang pelajar yakni Nabi saw. Beliau dengan ikhtiar beliau melakukan pencapaian-pencapaian ruhani dengan bimbingan malaikat, sehingga beliau siap dan akhirnya diangkat jadi seorang Nabi. Jadi beliau merdeka dalam belajar, dalam membangun karakter diri beliau. Bukan karena diperintah atau disuruh, tapi merdeka menggunakan ikhtiar beliau dalam mendidik diri, merdeka dalam belajar.

Ilmu Nabi sebagian diberikan pada saat beliau dialam mimpi, walau ada juga yang ditransfer melalui malaikat pembawa wahyu. Manusia yang lain pun sama, ketika kondisi ruhaniah sudah mencapai tingkat tertentu juga akan mendapatkan kesempatan ini, diajari hikmah dalam mimpi mereka. Tidur mereka lebih berharga dari para pelajar yang lalai. Hal ini bisa didapatkan dengan cara secara merdeka, tidak terpaksa dalam balajar mendidik diri. Yang menjadi pengajar adalah Allah langsung, ilmu dan hikmah akan diberikan langsung jadi tidak perlu dipelajari lagi.

Merdeka belajar akan tercapai ketika seseorang belajar karena dorongan qimah ruhiyah atau untuk meraih ridha Allah SWT. Dan memandang belajar di sekolah sekolah ataupun menuntut ilmu bagian dari ibadah kepada Sang Pemilik ilmu yaitu Allah SWT. Merdeka belajar tidak terkait dengan adanya ulangan, ujian, tes yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan ataupun negara. Akan tetapi merdeka belajar terkait dengam daya dorong seseorang untuk belajar yang bertujuan agar kelak bisa menjadi masyarakat yang produktif dan dapat bersosialisasi dengan masyarakat lain dengan baik.