Spread the love
oleh Syeid Ahmed Farhan El-Headdadie

            Gema batuk itu memenuhi ruangan yang dindingnya terbuat dari kayu. Hampir genap satu bulan perempuan tua itu menanggung sakit. Setiap ia batuk selalu ada cairan merah yang keluar dari mulutnya dan kini tubuhnya hanya tinggal tulang. Makanan yang selalu disuapkan oleh bocah kecil yang baru berumur tujuh tahun itu selalu tak habis di makan. Bocah itu adalah anaknya yang baru saja masuk Sekolah Dasar. Penuh iba ia  memandang wajah perempuan yang telah melahirkannya itu. Namun, saat perempuan itu melihat wajah anaknya kian melayu, dengan segera ia mengembangkan senyum di raut wajahnya yang mulai keriput itu. Dalam hatinya hanya ada satu kata, “Tenang sayang, Ibu akan baik-baik saja.”
            Batuk perempuan itu kian menjadi-jadi. Saat malam telah kian larut, batuk itu selalu singgah di tubuh perempuan yang kian kuyu itu. Sudah dua puluh satu malam buah hatinya yang kecil itu tak pernah memejamkan matanya. Rasa kantuk seolah-olah hilang dari kelopak matanya yang mungil itu. Ia selalu menemani ibunya mulai dari senja hingga terbit fajar. Padahal keesokan harinya ia harus ke sekolah. Setiap malam sang ibu selalu menina-bobokkan dia, tapi mata yang lucu itu tak pernah terpejam.
            Ia sungguh tak kuasa melihat ibunya melawan batuk seorang diri. Saat  ibu mulai batuk, ia segera berlari ke dapur mengambilkan segelas air putih dan diberikan kepada sang ibu. Oh, betapa ia mencintai ibunya.
            Ini adalah malam kedua puluh dua dimana ia belum juga memejamkan matanya. Namun, malam ini tetangga sebelah datang ke rumahnya dengan membawa obat-obatan untuk sang ibu. Saat itulah ibu mulai bercerita  perihal tentang si buah hatinya yang tak pernah lagi tidur malam karena selalu menemaninya saat ia sedang batuk.
            “Nak, kemari dekat makcik,” ucap wanita pembawa obat itu dengan nada yang begitu lembut. Bocah kecil yang baru masuk SD itu pun mendekat. “Sekarang kamu sudah bisa tidur ya, ini kan sudah pukul sebelas. Apa besok kamu tidak sekolah?” tanya wanita tersebut.
“Saya sekolah besok. Besok kami akan belajar membaca,” ucap bocah kecil dengan polos.
“Ya, kalau begitu kamu sudah boleh tidur ya,” bujuk wanita itu lagi.
“Saya nggak mau tidur makcik, saya takut malaikat mengambil ibu saya nanti saat saya sedang tidur,” jawab bocah itu begitu lugu.
            Wanita itu pun tersentak saat mendengar jawaban dari bocah lugu itu. “Nak, dengarkan makcik, kamu jangan takut  ya, ibumu akan baik-baik saja. Apakah di tempat kamu mengaji tak diajarkan oleh teungku bahwa kalau malam hari malaikat itu tidur?” ucap wanita pembawa obat.
Bocah lugu itu terdiam tanpa kata mendengarkan penjelasan dari wanita tersebut. “Tidak pernah diajarkan makcik” jawabnya.
“O, mungkin malam esok akan di ajarkan. Malam esok kamu pergi mengaji, kan? Kalau iya, coba kamu tanyakan sama teungku, apa benar malaikat tidur di malam hari?” tambah wanita itu.
“Baik makcik, akan saya tanyakan.”
            Akhirnya bocah kecil itu pergi tidur. Betapa senangnya ia mendengarkan penjelasan dari makcik tetangganya itu, bahwa malaikat takkan mengambil ibunya saat malam hari karena di waktu malam malaikat tidur.
            Bocah itu benar-benar terlelap, terbuai dalam mimpi indah. Sang ibu yang melihatnya pun tersenyum lebar, karena baru malam ini bocah kecil kesayangannya itu bisa terl
elap. Dan malam ini, batuk itu tak menghampiri sang ibu.
***
            Pagi kembali tiba dengan rona keindahan sang surya. Bocah kecil itu terjaga. Ia sangat terkejut dan hampir menangis karena ibu yang sangat dicintainya itu tak berada di sampingnya. Kemana ibu, pikirnya. Apakah malaikat telah mengambilnya saat ia tertidur semalam? Apakah makcik tetangga sebelah itu telah membohonginya? Apakah ibu, apakah dan apakah? Seribu tanya menyerbu benaknya.
            Bocah kecil itu akhirnya tak kuasa menahan tangisnya. Ibu telah pergi meninggalkannya. Tak ada lagi yang bisa ia cintai selain ibu. Tak ada lagi gema batuk yang memenuhi ruangan itu. Oh, ia semakin mengucurkan air mata. Ia sangat sedih di pagi yang cerah itu.
            Tiba-tiba sang ibu kembali masuk ke rumah. Ia baru saja membuang hajat di kamar kecil. “Kenapa kamu menangis sayangku?” tanya sang ibu.
Tanpa menjawab pertanyaan ibunya, ia langsung memeluk erat perempuan yang telah melahirkannya itu. “Amir pikir ibu telah diambil malaikat semalam, makanya Amir menangis, Bu.”
Sebuah senyum mengembang di raut wajah yang kian keriput itu. “Tidak koksayangku, sekarang kamu langsung mandi ya, biar cepat ke sekolah. Katanya hari ini kamu akan belajar membaca. Apa kamu mau tak bisa membaca nanti? Ibu baik-baik saja kok, kamu jangan khawatir ya” bujuk ibu.

Bocah lugu itupun akhirnya menuruti perkataan ibunya….