In the Name of Allah, Nothing is Impossible
Spread the love

Oleh : Wan Dian Armando, S.Pd ( Guru IPS SMP Plus Al Athiyah)

Sore itu, seperti biasa kami berlatih di halaman sekolah. “Kata 3” hari itu terasa lebih mudah diantara “Kata 1 & 2” yang sudah ku kuasai sebelumnya. Latihan hari itu benar-benar terasa berbeda, di satu sisi ada semangat yang kuat untuk menguasai seluruh gerakan yang telah diajarkan. Namun, disisi lain ada ketakutan akan sesuatu yang belum jelas itu apa. Di akhir latihan, Senpai kembali menyampaikan kabar tentang kenaikan tingkat yang akan diadakan dalam waktu dekat. Seperti proses kenaikan tingkat yang sebelumnya, kami harus mengikutinya di ibukota provinsi dengan jarak tempuh sekitar 5 jam perjalanan menggunakan mobil dari desa tempat sekolah kami berdiri. Lagi-lagi senpai mengingatkan kami untuk berhemat, karena tidak sedikit uang yang akan dihabiskan untuk keberangkatan kesana. Teman-teman saling pandang dengan wajah yang menyiratkan kesenangan. Hanya aku yang tertunduk hampir putus asa karena membayangkan kemungkinan terburuk yang akan kualami. Bayangan tentang sulitnya proses keberangkatan untuk kenaikan tingkat sebelumnya kembali menghantui pikiranku. Upacara penutupan latihan sore itu kuikuti dengan perasaan yang campur aduk.

Sambil beristirahat sejenak sebelum melangkahkan kaki untuk kembali ke rumah masing-masing, salah seorang teman mendekatiku. Dengan gaya khasnya yang selalu mengundang tawa, ia menepuk pundakku dari belakang, “Piye, Mas Bro..? Mukak sampean koq kayak benang layangan nyangkut nang tiang listrik..?”. Teman-teman yang lain lalu turut menimpali dengan pertanyaan yang senada. Aku hanya menjawab semua pertanyaan mereka dengan senyuman yang terkesan dipaksakan. Sebenarnya tanpa perlu menjawabpun mereka semua sudah tau hal apa yang membuatku berlaku demikian. Tanpa menunggu lama, salah satu teman mengucapkan kata-kata yang sungguh membuat plong dadaku yang terasa sesak sejak tadi. Sambil merangkul bahuku dia mulai mengeluarkan kata-kata yang masih terekam dengan jelas dibenakku hingga detik ini, “Dua kali dalam seminggu kita berlatih bersama, susah senang kita lewati bersama, baju kotor sama-sama, kenak hukum sama-sama, terkilir sama-sama. Kalau minggu depan memang jadwal kita untuk naik tingkat, berarti kita harus naik tingkat sama-sama. Tidak ada yang boleh tinggal di dozo ini dengan alasan apapun. Semua harus berangkat kesana. Jangan takut, kawan. Kami semua ada disini. Tidak ada masalah tanpa solusi. Tetaplah bersungguh-sungguh,, jangan izinkan keadaan  melemahkan semangatmu.

Kata-kata itu sungguh membuatku terharu. Untuk kedua kalinya, aku harus berangkat naik tingkat dengan uluran tangan sahabat-sahabatku. Air mata yang sedari tadi sudah menganak sungai perlahan mulai menetes. Salah seorang sahabat ku yang terkenal kocak tadi tak membiarkan momen ini berlangsung lama. Dengan sigap ia menarik sabukku yang memang sudah kulonggarkan sejak tadi dan membuat baju latihanku terbuka. Sambil berlari keliling lapangan, ia mengejekku, “Woiiyy, W.D.A nangis, anak mami cengeng..!!”. Kata-kata itu terus diteriakkannya berulang-ulang sambil membawa lari sabukku. Aku pun terpaksa berlari mengejarnya karena harus mendapatkan kembali sabukku agar bajuku tidak terbuka lebih lama. Aksi kejar-kejaran ini mengundang gelak tawa kawan-kawanku yang lain. Singkat cerita, akupun berhasil mengikuti kenaikan tingkat dengan hasil yang sangat memuaskan diatas nilai rata-rata yang diperoleh teman-temanku.

Tak henti-hentinya aku berterima kasih kepada teman-temanku, karena tanpa kerendahan hati mereka aku tak mungkin bisa berangkat untuk kenaikan tingkat kali ini. Dan keyakinanku akan janji Allah semakin berlipat-lipat. “Allah tidak akan memberikan cobaan melampaui kemampuan hamba-Nya”.

***

            Pertengahan Maret 2012, semua siswa/siswi SMA sederajat di Indonesia disibukkan dengan persiapan UN yang akan segera menyapa. Bayangan tentang sulitnya menyelesaikan soal UN tahun ini benar-benar membuat semua siswa/siswi SMA sederajat di Indonesia melakukan usaha terbaiknya untuk persiapan menghadapi UN. Tak terkecuali aku, hari-hariku disibukkan dengan mengulang semua pelajaran yang telah ku terima selama 2,5 tahun terakhir. Disela-sela kesibukanku sekolah sekaligus merawat kakek yang kondisinya kian hari kian melemah. Selain itu, konsentrasiku juga harus terbagi dengan persiapan keberangkatan Raimuna Daerah yang penyelenggaraannya tepat dua pekan sebelum UN. Alhamdulillah, tahun itu Kwartir Ranting kami mengutus 4 orang pengurus DKR untuk bergabung dengan teman-teman dari Kwartir Ranting lain sebagai kontingen Kwartir Cabang.

Siang itu, kami bercanda di kelas sambil mengulang pelajaran bersama teman-teman. Tiba-tiba suara itu terdengar lagi. “Mana Wan Dian..?!?!” Sontak kami kaget dan menoleh kearah pintu kelas. Ternyata ibu kepala sekolah yang sedang mencari siswa/siswi yang bermasalah dengan pembayaran. Kata-kata itu masih jelas terekam dalam benakku, “Uang SPP 4 bulan, Uang buku LKS, Uang Les tambahan, belum ada yang kamu cicil satupun. Senin ini sudah UN. Kapan lagi kamu mau melunasi semua itu..?!?!”. Aku yang sedari tadi  tertunduk sambil berlinang air mata hanya bisa diam tanpa membalas sepatah kata pun. Beliau melanjutkan, “Jangan harap kamu bisa ikut UN kalo semua itu belum lunas. Ingat itu..!!!” Ancaman itu memecah bendungan air mata ku yang memang tinggal menunggu waktunya untuk meluap. Aku menghitung-hitung dalam sesenggukan tangisku, UN bisa dihitung dengan jari sebelah tangan, itu pun masih tersisa 2 jari lagi. Darimana aku bisa mendapatkan uang sebanyak itu. Pandanganku mulai nanar. Dari ekor mataku, aku melihat dengan jelas salah seorang temanku lalu berdiri dan mengambil kotak kapur tulis. Kotak kapur tulis itu lantas dibawanya berkeliling kelas. Ia menyodorkan kotak kapur tadi ke hadapan teman-teman sekelasku seraya mengatakan, “Ayok bantu Wan Dian, Keluarkan semua sisa uang jajan klen hari ini..!!” Tanpa menunggu lama, teman tadi mendekatiku lalu menyerahkan uang hasil kotak kapur keliling sambil berkata, “Ini dari teman-teman sekelas, semoga bisa membantu, yaa..” Aku tertegun dengan sikap temanku yang satu ini, tanganku tak henti bergetar saat menerima uang itu. Aku pun langsung bangkit dan menyerahkan uang itu ke tangan ibu kepala sekolah yang sedari tadi terpaku di depan pintu kelas menyaksikan drama singkat yang baru saja kami lakonkan. Tanpa sepatah katapun, ibu kepala sekolah berlalu dari depan kelas kami. Mungkin ia merasa malu dengan apa yang baru saja disaksikannya.

Berlalunya ibu kepala sekolah membuatku merasa bebas menumpahkan semua sedihku. Teman-teman terdekatku segera memberikan dukungan semangat kepadaku. Aku sadar uang tadi hanya menutupi sepertiga dari jumlah yang harus kubayar. Teman-teman sekelasku pun tau itu. Tak berapa lama kemudian, satu diantara mereka bersuara, “Ayok kita bilang ke Buk Agama, pasti beliau mau bantu Wan Dian membayar semua itu.” Aku sempat melarang karena tidak enak hati sudah terlalu sering merepotkan Buk Agama. Tapi mereka tetap bergerak tanpa sepengetahuanku. Keesokan harinya, aku seakan tak bersemangat tuk berangkat ke sekolah. Untung teman dekatku datang menjeput, sambil tersenyum ia menyodorkan 3 lembar uang pecahan seratus ribuan. “Nah, dari Buk Agama. Apa ku bilang..??”. Lagi-lagi Allah menitipkan kemudahan untukku dengan perantara orang-orang di sekelilingku. Singkat cerita, aku bisa mengikuti UN dan berhasil lulus dengan nilai yang cukup memuaskan.

Sungguh amat banyak kenikmatan yang sudah kuperoleh sepanjang hidup ini. Andai ada kesempatan untuk menuliskannya, mungkin orang akan sampai muak membacanya. Dulu, tak pernah terbersit dipikiranku untuk bisa bertahan hidup sampai hari ini. Sejak ibu meninggalkan kami 12 tahun yang lalu, aku merasa semuanya sudah berakhir. Cita-citaku yang setiap pagi ditanyakan ibu saat akan berangkat sekolah, seakan melayang begitu melihat ibu terbujur kaku setelah melahirkan adikku yang terkecil. Semua terasa sirna sudah. Sejak kecil kami sudah tau bagaimana perangai ayah. Tidak mungkin mengharapkan sesuatu kepada ayah. Tapi ternyata Allah terlampau sayang kepada hamba-hamba-Nya. Setiap kali aku menghadapi sesuatu yang teramat sulit dalam hidupku, selalu ada tangan-tangan yang dengan tulus membantuku. Itulah kebesaran Allah. Allah sudah mengabarkan dalam Al-Qur’an bahwa binatang melata sekalipun di muka bumi ini telah Allah atur rezekinya. Oleh karenanya, tidak boleh ada kata bermalas-malasan dalam hidup ini. Asal kita terus berusaha dengan penuh keyakinan, Allah akan menyelesaikan semua masalah itu dengan cara-Nya sendiri. Jangan pernah berputus asa. Pastikan kita selalu menjaga hubungan baik dengan orang-orang disekitar kita. Jangan pernah mengecewakan mereka. Insya Allah…..