KOMPETENSI GURU DALAM MENGHADAPI TANTANG INDUSTRI 4.0
Spread the love

Oleh M. Ikhsan, S.Pd ( guru PAI SMP Plus Al Athiyah)

Indonesia adalah negara yang besar dengan jumlah penduduk 267 juta jiwa (tahun 2019) dan menempati peringkat 4 dunia negara terpadat. Jumlah penduduk yang besar akan menjadi beban bagi negara bila tidak diimbangi dengan tingginya kualitas SDM. Inilah tantangan bagi dunia pendidikan. Bagaimana cara dunia pendidikan di negara kita bisa mencetak generasi yang cerdas, handal, dan tangguh  dalam  menghadapi tantangan revolusi  industri 4.0.

Revolusi industri generasi keempat ditandai dengan kemunculan super komputer, robot pintar, kendaraan tanpa pengemudi, editing genetik dan perkembangan neuro teknologi yang memungkinkan manusia untuk lebih mengoptimalkan fungsi otak. Lalu bagaimanakah persiapan para guru dan tenaga kependidikan menghadapi semangat zaman tersebut?

Pendidikan merupakan proses untuk mengembangkan potensi yang dimiliki peserta didik. Melalui pendidikan inilah semua potensi yang dimiliki oleh peserta didik akan berubah menjadi kompetensi. Kompetensi mencerminkan kemampuan  dan kecakapan peserta didik dalam menyelesaikan tugas yang diembannya. Hanya peserta didik yang memiliki kompetensi yang tinggi yang mampu menghadapi tantangan revolusi industri 4.0.

Peran guru secara utuh sebagai pendidik, pengajar, pembimbing, “orang tua” di sekolah tidak akan bisa digantikan sepenuhnya dengan kecanggihan teknologi. Karena sentuhan seorang guru kepada para peserta didik memiliki kekhasan yang tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang atau digantikan teknologi. Meskipun profesi guru tidak mendapatkan pengaruh secara signifikan dengan adanya revolusi industri 4.0, namun guru tidak boleh terlena dengan kondisi yang ada, guru harus terus meng-upgrade diri agar bisa menjadi guru yang mampu menghasilkan sumber daya manusia yang lebih berkualitas. Untuk menyiapkan para guru menghadapi perkembangan zaman yang terus berkembang, setidaknya ada 4 kompetensi yang harus dimiliki oleh guru pada era revolusi industri 4.0 ini. 4 Kompetensi tersebut adalah sebagai berikut:

A. Guru Harus Mampu Melakukan Penilaian Secara Komprehensif

Penilaian tidak hanya bertumpu pada aspek kognitif atau pengetahuan saja. Namun penilaian yang dilakukan oleh guru di era sekarang harus mampu mengakomodasi keunikan dan keunggulan para peserta didik, sehingga para peserta didik sudah mengetahui segala potensi dirinya sejak di bangku sekolah.

B. Guru Harus Memiliki Kompetensi Abad 21

Untuk mewujudkan siswa yang memiliki keterampilan abad 21 maka gurunya pun harus memahami dan memiliki kompetensi tersebut. Ada 3 aspek penting dalam kompetensi abad 21 ini, yaitu:

  1. Karakter, karakter yang dimaksud dalam kompetensi abad 21 terdiri dari karakter yang bersifat akhlak (jujur, amanah, sopan santun dll) dan karakter kinerja (kerja keras, tanggung jawab, disiplin, gigih dll). Dalam jiwa dan keseharian soerang guru masa kini sangat penting tertanam karakter akhlak, dengan karakter akhlak ini lah seorang guru akan menjadi role model bagi semua peserta didiknya. Pembelajaran dengan keteladan dari seorang guru akan lebih bermakna untuk para peserta didik. Selain karakter akhlak, guru masa kini pun harus memiliki karakter kinerja yang akan menunjang setiap aktivitas dan kegiatan yang dilakukannya, baik ketika pembelajaran di kelas maupun aktivitas lainnya.
  2. Keterampilan, keterampilan yang perlu dimiliki oleh guru masa kini untuk menghadapi peserta didik abad 21 antara lain kritis, kreatif, kolaboratif dan komunikatif. Keterampilan-keterampilan tersebut penting dimiliki oleh guru masa kini, agar proses pendidikan yang berlangsung mampu menghantarkan dan mendorong para peserta didik untuk menjadi generasi yang siap menghadapi tantangan perubahan zaman.
  3. Literasi, kompetensi abad 21 mengharuskan guru melek dalam berbagai bidang. Setidaknya mampu menguasai literasi dasar seperti literasi finansial, literasi digital, literasi sains, literasi kewarnegaraan dan kebudayaan. Kemampuan literasi dasar ini menjadi modal bagi para guru masa kini untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih variatif, tidak monoton hanya bertumpu pada satu metode pembelajaran yang bisa saja membuat para peserta didik tidak berkembang.

C. Guru Harus Mampu Menyajikan Modul Sesuai Passion Siswa

Di era perkembangan teknologi yang semakin berkembang, modul yang digunakan dalam pembelajaran tidak selalu menggunakan modul konvensional seperti modul berbasis paper. Guru masa kini harus mampu menyajikan materi pelajaran dalam bentuk modul yang bisa diakses secara online oleh para peserta didik. Sudah banyak fitur yang bisa dijadikan oleh guru sebagai sarana untuk mengembangkan modul berbasis online. Namun demikian ketersediaan fitur untuk modul online ini harus dibarengi dengan kemampuan guru dalam mengemas fitur-fitur tersebut. Kombinasi antara pembelajaran tatap muka di kelas (konvensional) dan pembelajaran online ini dikenal dengan istilah blended learning.

D. Guru Harus Mampu Melakukan Autentic Learning yang Inovatif. 

Sekolah bukan tempat isolasi para peserta didik dari dunia luar, justru sekolah adalah jendela untuk membuka dunia sehingga para siswa mengenali dunia. Untuk menjadikan sekolah sebagai jendela dunia bagi para peserta didik, guru harus memiliki kompetensi penyajian pembelajaran yang inovatif. Pembelajaran yang disajikan harus mengarah pada pembelajaran yang joyfull and inovatif learning, yakni pembelajaran yang memadukan hands on and mind onproblem based leraning dan project based learning. Dengan pengemasan pembelajaran yang joyfull and inovatif learning akan menjadikan peserta didik lebih terlatih dan terasah dalam semua kemampuannya, sehingga diharapkan lebih siap dalam menghadapi perkembangan zaman.

Salah satu tantangan yang harus dihadapi guru di era digital ini (revolusi industri 4.0) adalah pertama, mengatasi penyakit TBC (tidak bisa computer). Perlu diingat, peserta didik yang dihadapi guru saat ini merupakan generasi millenial yang tidak asing lagi dengan dunia digital. Jangan sampai timbul istilah, peserta didik era industri 4.0 diajar oleh guru industri 3.0 atau diajar guru industri 2.0, bahkan yang lebih parah lagi diajar oleh guru industri 1.0. Jika  ini terjadi , maka pendidikan kita akan terus tertinggal dibandingkan negara lain yang telah siap menghadapi perubahan besar ini. Jika guru tidak mempersiapkan kedatangan revolusi digital ini, guru bukan hanya dikalahkan dengan teknologi, guru juga akan dikalahkan oleh peserta didiknya.

Kedua, problem pengelolaan kelas. Guru seringkali mengeluh ketika mengajar di kelas, apalagi jika kelas yang dikelolanya adalah kelas yang menurutnya mayoritas peserta didiknya memiliki kecerdasan rendah, kurang disiplin, malas belajar, dan tidak patuh terhadap perintah guru. Guru yang cerdas pasti mampu menggunakan strategi untuk mengatasi hal tersebut, salah satunya dengan menggunakan variasi model dan media pembelajaran agar peserta didik tertarik dan termotivasi untuk belajar.

Ketiga, problem komunikasi. Guru sering kali memiliki kecenderungan untuk dimengerti dan dihargai oleh peserta didiknya. Padahal seharusnya gurulah yang harus mengerti kondisi mereka terlebih dahulu. Setelah guru mengerti kondisi peserta didik  secara tidak langsung peserta didik akan mau mengerti kondisi gurunya.

Kemampuan dan kreatifitas  guru cerdas dalam era globalisasi dunia pendidikan saat ini masih sangat dibutuhkan dan tidak bisa tergantikan oleh komputer maupun internet. Hal ini disebabkan peran guru sangatlah kompleks,  antara lain : a) guru memiliki peran sebagai pembimbing, b) guru berperan sebagai sebagai evaluator dan motivator, c) guru sebagai  konselor, dan d)  guru cerdas mampu mengembangkan kreatifitas dan inovatif peserta didik.  Selain itu, guru  cerdas juga harus mampu memilih strategi pembelajaran yang sesuai. Penggunaan strategi pembelajaran yang sesuai antara materi, metode dan media pembelajaran dapat mewujudkan tercapainya tolak ukur keberhasilan proses belajar mengajar. Sehingga dapat mencetak generasi cerdas dari rahim dunia pendidikan. Untuk mencetak guru-guru yang cerdas inilah pemerintah mengeluarkan kebijakan dalam bentuk sertifikasi guru. Dengan sertifikasi guru inilah pemerintah berharap agar guru menuntaskan kewajibannya dengan terus mengasah kemampuan dan kreatifitas dalam mengajar.

Dari gambaran diatas, betapa pentingnya peran guru dan betapa beratnya tugas dan tanggungjawab guru. Seorang  guru yang cerdas mampu menghadapi dan mengelola tantangan menjadi sesuatu yang bisa dimanfaatkan, memahami apa yang diajarkan, menguasai bagaimana mengajarkannya, dan tidak kalah pentingnya menyadari mengapa dia memilih dan menetapkan pilihan terhadap sesuatu kegiatan pembelajaran. Oleh  sebab itu setiap guru hendaknya selalu mengembangkan dirinya menjadi pribadi yang lebih baik.