Mengenal Mudir Dayah Al-'Athiyah Tahfizh Al-Qur'an
Spread the love

 

Usianya masih muda, namun ia sudah dipercaya menjadi imam Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, masjid kebanggaan simbol rakyat Aceh maupun kaum muslimin di Asia Tenggara.
Dr Salman Syarifuddin Al Hafizh, MA, 36 tahun, sudah dipercaya menjadi imam masjid tersebut sejak berusia 31 tahun. Mahasiswa doktoral Universitas Islam Negeri (UIN) Ar Raniry, Banda Aceh, ini dipercaya sebagai imam Masjid Raya Baiturrahman, sejak 2005.
“Saya tidak percaya ketika ditawarkan menjadi imam Masjid Raya Baiturrahman, saat itu. Ketika itu, usia saya masih muda, 31 tahun,” kata dosen Fakultas Tarbiyah Universitas Serambi Mekkah, Banda Aceh, ini.
Namun, karena saat itu tiga imam Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, menjadi korban tsunami 26 Desember 2004, Salman akhirnya menerima tawaran tersebut.
“Saat itu, saya dan dua teman saya yang semuanya hafiz atau penghafal Al Quran ditawari menjadi imam, mengisi kekosongan tiga imam Masjid Raya Baiturrahman, yang menjadi korban tsunami,” katanya.
Awalnya, sebut Salman Syarifuddin Al Hafizh, dirinya sempat gugup ketika mengimami jamaah Masjid Raya Baiturrahman. Pertama kali ia menjadi imam di masjid tersebut pada 1 April 2005.”Saya akui, awalnya saya gugup. Apalagi saat itu usia saya masih muda. Namun, lama kelamaan akhirnya saya menjadi biasa,” ungkap ayah lima anak, satu putra dan empat putri ini.
Selain di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Salman Syarifuddin Al Hafizh pernah mengenyam pengalaman menjadi imam di komunitas Islam di Darwin, Australia, pada Ramadhan 1435 Hijriah.
Ia menggantikan imam tetap di masjid Islamic Center komunitas Islam di negeri kanguru selatan itu yang kembali ke India. Sementara, penggantinya dari Afrika Selatan baru bisa ke Australia, pada Agustus 2014.
“Saya mendaftar melalui online menjadi imam di masjid komunitas Islam yang berasal dari 29 negara di Darwin tersebut. Alhamdulillah saya terpilih dari sekian banyak pelamar. Saya menjadi imam di negeri itu selama bulan puasa lalu,” kata Salman Syarifuddin Al Hafizh.
Berbicara syariat Islam di Aceh, alumni Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Al Asyiah, Jakarta, ini menuturkan, dalam pelaksanaannya jangan karena terpaksa dan keterpaksaan.
“Sebelum melaksanakan syariat Islam, kita harus memahami apa itu Islam. Kalau kita sudah memahami, maka pelaksanaan syariat Islam ini tidak karena terpaksa atau keterpaksaan,” katanya.
Oleh karena itu, suami Yiyi Hissyiah ini mengimbau seluruh elemen masyarakat Aceh menjalankan syariat Islam bukan karena terpaksa dan keterpaksaan.
“Karena ada pemahaman, maka masyarakat akan terbiasa melaksanakan syariat Islam. Jadi, pelaksanaannya tidak setengah-setengah, sehingga tekad menjalankan syariat Islam secara kaffah, tentu akan terwujud,” kata Salman Syarifuddin Al Hafizh.
Menyangkut budaya shalat berjamaah di masjid-masjid, Salman Syarifuddin Al Hafizh, saat ini semakin membaik. Masjid-masjid mulai terlihat banyak orang, walau tidak penuhi.
“Saya lihat shalat berjamaah di masjid sudah terlihat ramai. Namun begitu, ada juga shalat berjamaahnya kurang ramai, seperti shalat subuh. Shalat subuh berjamaah tidak seramai shalat zuhur,” kata dia.
Oleh karena itu, ia mengajak berbagai elemen di Aceh, bersama-sama menggiatkan shalat subuh berjamaah. Apalagi saat ini sudah mulai banyak lembaga masyarakat menggalakkan shalat subuh berjamah.
“Galakkan shalat subuh berjamaah kepada anak-anak kita sejak usia dini. Jika semua ini dilakukan dengan sungguh-sungguh, maka upaya kita memakmurkan masjid tercapai,” kata Salman Syarifuddin Al Hafizh.
Sumber : https://aceh.antaranews.com