MERDEKA BELAJAR MENJADIKAN GURU PROFESIONAL, SISWA HAVE FUN
Spread the love

Oleh : Fauziah Nur, S.Pd

(Guru Bahasa Ingggris dan kepala perpustakaan SMP Plus Al Athiyah)

Belum lama ini kita dihebohkan dengan keputusan ditiadakan UN oleh Pak Mentri Pendidikan dan Kebudaan yaitu Nadim Anwar Karim. Bukan tampa alasan, pak mentri menjelaskan beberapa alasan terkait ditiadakannya UN. Tentunya hal ini menimbulkan pro dan kontra tersendiri di dunia pendidikan Indonesia. Namun tidak sedikit pula yang mendukung hal tersebut dilakukan. Di laman WE Online Jakarta, Mentri pendidikan Nadiem Makarim mengatakan materi ujian atau UN untuk para siswa sekolah cenderung lebih kepada menghafal pelajaran bukan kepada kompetensi siswa itu sendiri. Selain itu, materi UN itu juga sangat padat sehingga cenderung berfokus pada mengerjakan materi dan menghafal materi sehingga hal ini menjadi beban stres tersendiri tidak hanya bagi siswa dan guru tetapi juga para orang tua wali murid. Menurutnya UN hanya menilai satu aspek saja yaitu kognitif yang itupun tidak terwakili semuanya dalam soal-soal UN yang rumit. Itulah salah satu alasan mengapa Pak Nadiem mencetus Gebrakan “Merdeka Belajar” . Pada tulisan kali ini penulis akan menjelaskan konsep merdeka belajar dan juga kaitan kesesuaiannya untuk siswa masa kini yang membuat siswa jadi senang, guru jadi professional, karena pembelajaran berlangsung menyenangkan.

  1. MERDEKA BELAJAR

Dalam diskusi Standard Nasional Pendidikan pak Nadiem mengatakan bagaimana sang anak punya keleluasaan untuk belajar .  “Merdeka belajar adalah kemerdekaan berfikir. Dan tentu kebebasan berfikir ini harus ada di guru terlebih dahulu. Tampa terjadi di guru tidak mungkin bisa terjadi dimurid.” Nah hal ini lah penting untuk kita ingat bahwa ada peran guru sebagai garda terdepan untuk menciptakan suasana yang merdeka, merdeka dari tuntutan kurikulum, merdeka dari menghafal materi, merdeka dari satu metode belajar, merdeka dari system kejar target nilai. Disadari atau tidak, masa sekarang adalah masa dimana seorang guru dari TK sampai dengan Perguruan tinggi ialah seorang guru yang setiap hari beradapan dengan anak-anak generasi Z. Rata-rata kelahiran nya pada tahun 2000-2015 yang mana kita ketahui sendiri bahwa anak-anak pada generasi ini memliki karakteristik yang berbeda dengan generasi-generasi sebelumnya, yang mana ia lebih cenderung menginginkan kebebasan, memiliki rasa percaya diri yang tinggi, ambisi yang besar, menyukai hal-hal yang simple, instan dan praktis, kritisi dalam berfikir, detail dalam mencermati suatu permasalahan, ingin mendapat pengakuan dan yang paling penting harus kita ingat adalah melek terhadap teknologi informasi. Oleh karenanyanya terlalu deskriminatif jika kita seorang guru saat ini masih memakai metode-metode lama yang dapat melahirkan mental-block siswa. Karena setiap anak memiliki multi kemampuan tersendiri tampa kecuali yang dengan potensi itu sudah seharusnya mereka bisa berkembang lebih cepat dan lebih peka dalam menghadapi persoalan-persoalan pembelajaran maupun persoalan-persoalan dalam kehidupan sehari-hari.

 

  1. MERDEKA MENGAJAR

Terlaksananya konsep merdeka belajar lahir dari konsep merdeka mengajar. Merdeka mengajar bagi guru bukan berarti guru mengajar bebas berekspresi tampa tujuan. Dan bukan pula merdeka mengajar guru tidak harus membuat rencana pembelajaran (RPP). Hal ini pak mentri menjelaskan RPP tetap harus di buat sebagai acuan perencanaan dan tujuan proses pembelajaran namun lebih ringkas dari RPP-RPP sebelumnya. Sehingga proses dan tujuan pembelajaran tetap tercover dengan baik dan sangat memudahkan guru dalam membuatnya.

Proses mengajar terlalu terkekang dan menegangkan akan mengakibatkan tidak sedikit guru yang kehilangan hak oleh muridnya sendiri yaitu hak untuk mengajar dan bahkan hak untuk menjadi guru (tidak di hargai) karena pembelajaran yang terkesan membosankan. Merdeka juga berarti guru mempunyai kebebasan untuk memilih metode , memilih teknik dan media mengajar atau mengkolaborasikan berbagai metode sesuai kebutuhan. Ada banyak sekali metode, teknik dan media mengajar tersebut namun harus di sesuaikan dengan :

  1. Tujuan mengajar

Guru harus tau persis apa tujuan mengajar pada hari itu sehingga bisa di sesuaikan dengan metode apa yang akan digunakan. Misal : tujuan pembelajaran adalah agar siswa mampu bekerja sama dengan baik namun metode yang digunakan adalah mandiri, sehingga tujuan pembelajaran pada hari itu tidak tercapai dengan baik.

  1. Siapa muridnya

Guru harus mengetahui siapa-siapa orang yang akan di ajarkannya. Sehingga guru bisa memberikan keleluasaan kepada murid untuk menentukan metode apa yang akan dipakai untuk belajar. Dan diseuaikan dengan keadaan siswa. Apa yang harus dilakukan dan media apa yang akan digunakan. Belajar dengan gayanya yang penting tujuan tercapai.

  1. Tempat pembelajarannya

Tempat pembelajaran bisa dimana saja, nyaman untuk peserta didik dan guru. Bisa di kelas, luar kelas, laboraturium, pustaka sekolah atau mengunjungi tempat-tempat sumber belajar lain seperti mengadakan outing class. Hal tersebut membuat peserta didik lebih bersemngat dalam proses pembelajaran karena dihadapkan dengan dunia nyata.

Sehingga dapat kita simpulkan merdeka mengajar artinya guru mengajar dan menjalankannya dalam suasana merdeka, suasana senang, gembira dan tidak di ikat oleh fikiran-fikiran tertentu, tidak di tekan oleh sesuatu tetapi selalu meluangkan kesempatan sepuas-puasnya sehingga muridpun menjadi gembira dan tujuan pembelajaran tersampaikan.

 

Lalu bagaimana suasana merdeka mengajar dan merdeka belajar dapat tercipta dengan baik, berikut hal yang harus diingat dan disadari :

  1. Guru sebagai Fasilitator

Hal yang paling mendasar yang harus diingat oleh seorang guru adalah guru sebagai fasilitator. Guru fasilitatotor yaitu memfasilitasi pembelajaran yang berlangsung pada diri peserta didik sehingga mereka memperoleh pengalaman belajar yang nyata dan otentik. Dengan memfasilitasi pembelajaran guru berusaha mengajak  dan membawa seluruh peserta didik untuk berpartisipasi dan tidak monoton. Bukan zamannya lagi seorang guru menyuapi, artinya datang, duduk ceramah lalu berikan soal dan jawab sesuai konteks. Pembelajaran seperti ini sangat pasif, tidak mengajak siswa untuk berfikir kreatif dan kritis. Sangat jauh dari tujuan pendidikan masa kini. Tujuan pendidikan masa kini  adalah pendidikan yang mampu melahirkan anak-anak yang aktif, berfikir kritis, kreatif dan mampu dalam menyelesaikan masalah dengan kompetensi penalaran bukan terfokus pada konten atau bukan belajar supaya renkingnya tinggi atau target lulus.

Dengan menjadi fasilitator, kita memudahkan peserta didik mencapai tujuan dengan tidak mencampuri hasil kerjanya, sebagai guru kita hanya mengarahkan namun merekalah yang bekerja dan menemukan. Dengan begitu suasana kelas menjadi aktif dan menyenangkan.  karena seperti yang kita ketahui di atas, anak-anak di gen z ini  adalah anak-anak yang senang dengan kebebasan dan berambisi besar. Sehingga pembelajaran yang membuat mereka bertanya-tanya akan dengan senang hati mereka kerjakan dengan cara mereka masing-masing. Dengan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk berperan serta dalam pembelajaran , diharapkan dapat mengembangkan potensinya secara maksimal sehingga mendorong tumbuhnya kreativitas dan inovasi. Oleh sebab itu, berikan kebebasannya dalam belajar dengan menjadi fasilitator.

 

  1. Student centered Learning ( Pembelajaran berpusat pada siswa)

SCL atau yang dikenal dengan student centered learning adalah hal yang tidak boleh dilupakan oleh seorang pendidik. Dimana system pembelajaran berpusat pada siswa, artinya peserta didik diharapkan sebagai peserta aktif dan mandiri dalam proses belajarnya, yang bertanggung jawab dan berinisiatif untuk mengenali kebutuhan belajarnya karena Siswa bisa lebih terlibat jauh dalam berpikir tingkat yang lebih tinggi (high order thinking). Dalam pendekatan ini siswa secara berdiskusi dengan kelompoknya mengeksplorasi secara mandiri terhadap suatu permasalahan.  menemukan sumber-sumber informasi untuk dapat menjawab kebutuhannya. Tidak lagi TCL (teacher centered learning) atau pembelajaran berpusat pada guru yang membuat kreativitas yang dimiliki siswa terhalang untuk berkembang. SCL lah yang diharapkan terjadi di setiap kelas untuk meraih keberhasilan belajar yang optimal. Prinsip-prinsip pendekatan SCL:

  • tanggung jawab, yaitu peserta didikmempunyai tanggung jawab pada pelajarannya. Dengan memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mempunyai tanggung jawab pada pelajarannya, peserta didik diharapkan akan lebih berusaha dan lebih termotivasi dalam memaknai pelajarannya.
  • Partisifatif, yaitu peserta didikharus berperan aktif dalam pembelajaran. Dengan memberi kesempatan kepada peserta didik untuk berperan serta dalam pembelajaran, diharapkan siswa dapat mengembangkan potensinya secara maksimal sehingga mendorong bertumbuhnya kreativitas dan inovasi.
  • Keadilan, yaitu semua peserta didikmempunyai hak yang sama untuk tumbuh dan berkembang. Dengan kesempatan yang sama untuk tumbuh dan berkembang tersebut akan menutup keunggulan hanya didominasi mahasiswa tertentu saja dan diharapkan semua peserta didik dapat bersama-sama berhasil mencapai tujuan secara maksimal.
  • Mandiri, yaitu semua peserta didikharus mengembangkan segala kecerdasannya (intelektual, emosi, moral, dsb) karena guru hanya fasilitator dan nara sumber (mitra belajar).
  • Berfikir kritis dan kreatif, yaitu peserta didikharus menggunakan segala kecerdasan intelektual dan emosinya yang berwujud kreativitas, inovasi, dan analisa untuk mengatasi berbagai tantangan yang dihadapi karena siswa akan mengalami perpaduan antara prakonsepsi dan konsepsi.
  • Komunikatif, yaitu peserta didikharus menggunakan kemampuannya berkomunikasi baik lisan maupun tertulis karena boleh jadi siswa melihat konsep dengan cara yang berbeda sebagai hasil pengalaman hidupnya, sehingga diperlukan media dan sarana yang efektif untuk menyamakan presepsi.
  • Kolaboratif , yaitu kondisi dimana para peserta didikdapat saling bersinergi dan saling mendukung pencapaian keberhasilan atau tujuan yang ditetapkan dalam pembelajaran.
  • Integritas, yaitu peserta didikharus menunjukkan perilaku moralitas tinggi, dan percaya diri dalam melaksanakan segala sesuatu yang diyakininya dalam situasi apapun.

Poin-poin inilah yang diharapkan terjadi di setiap kelas disetiap proses pembelajaran, maka dari itu seorang pendidik harus mampu menciptakan suasana aktif di kelas dengan selalu mengingat pembelajaran itu berpusat pada siwa, siswa yang berfikir, siswa yang observasi, siswa yang bekerja, siswa yang menemukan bukan guru.

  1. Quantum teaching

Kenapa quantum teaching? Karena quantum teaching adalah salah satu metode yang sangat sesuai untuk di terapkan dalam mencapai tujuan pembelajaran sesuai dengan prinsip merdeka belajar masa kini. Dalam quantum teaching guru masuk dalam dunia  siswa . Baik itu alam, alat, sarana sekitarnya sesuai dengan kondisi siswa.

Prinsip-prinsip Quantum teaching:

  1. Segalanya berbicara

Artinya semua yang ada dikelas, di lingkungan dimanfaatkan untuk belajar. Seperti: dinding kelas dihias seolah-olah pemandangan luar angkasa dengan menempelkan gambar-gambar planet. Kursi juga dimanfaatkan sebagai kendaraan  dan lain sebagainya.

  1. Segalanya Bertujuan

Segala yang ada dalam proses pembelajaran baik sarana maupun prasarana tidak ada yang menghambat proses pembelajaran, semuanya pendukung yang menghantarkan ke tujuan pembelajaran.

  1. Pemberian pengalaman sebelum menamai

Maksudnya ialah biarkan siswa terlebih dahulu mengobservasi dan mengutarakan pendapatnya setelah itu baru di tarik kesimpulan dan keterangan dari hasil kerja secara bersama-sama.

  1. Akui setiap usaha

Setiap usaha siswa sekecil apapun itu merupakan perlakuan yang berenergi. Akui dengan memberikan apresiasi bisa dengan bertepuk tangan, memberikan jempol, memberikan motivasi atau pujian-pujian kecil. Karena hal tersebut memiliki efek yang besar untuk meningkatkan semangat belajar siswa kedepannya.

  1. Layak di rayakan

Setiap hal yang layak di pelajari berarti layak untuk di rayakan kesuksesannya. Berikan apresiasi guru untuk mrnggembirakan kelas walaupun dengan hadiah-hadiah kecil.

 

Merdeka belajar bisa tercipta jika gurunya juga merdeka dalam mengajar. Terus berinovasi, bekarya menciptakan pembelajaran yang asik dan menyenangkan dengan prinsip guru adalah fasilitator dan pembelajaran berpusat pada siswa dengan menggunakan berbagai metode sesuai kebutuhan pembelajaran