Pembelajaran Kitab Kuning
Spread the love

(Aceh Besar, 26 Maret 2021) ; Dayah di Aceh merupakan lembaga pendidikan tradisional Islam yang bertujuan
untuk membimbing anak didik (Aneuk Dayah/santri) untuk menjadi manusia yang berkepribadian islami, yang sanggup menjadi umat yang berguna bagi bangsa dan negara serta agama. Diharapkan dari Dayah lahir insan-insan yang menekankan pentingnya penerapan akhlak agama Islam yang merupakan pedoman hidup bermasyarakat sehari-hari. Bila ditinjau dari sudut historis kultural, Dayah di Aceh dapat dikatakan sebagai pusat pelatihan yang secara otomatis menjadi pusat budaya Islam yang disahkan atau dilembagakan oleh masyarakat di Aceh.

Materi yang dipelajari di dayah meliputi ilmu fiqih, akidah akhlak, tauhid dan ilmu agama yang lainnya. Semua dayah yang ada diaceh menggunakan kitab kuning sebagai rujukan atau pedoman materi dalam belajar. Kurun waktu 15 tahun terakhir keberadaan dayah di aceh sudah mulai beragam, ada dayah salafiyah atau lebih dikenal dengan dayah kitab kuning dan hadir juga dayah moderen serta dayah tahfizd Al Qur’an atau lebih dikenal dengan pesantren tahfizh.

Dayah Al Athiyah merupakan salah satu dayah yang memfokuskan pembelajaran tahfizh Al Qur’an dan mengintegrasikan juga pembelajaran kitab kuning serta pendidikan formal dengan kurikulum 2013 dari dinas pendidikan. Sehingga lulusan dari Dayah Al Athiyah selain hafal Al Qur’an dan punya pengalaman di dunia akademik juga mampu membaca dan memahami isi pembelajaran dari kitab-kitab kuning karangan ulama. Tentunya dalam hal ini adalah ilmu akidah, fiqih dan akhlak serta sejarah kebudayaan islam termasuk di dalamnya sejarah Nabi Muhammad SAW. Pengajar kitab kuning Dayah Al Athiyah berasal merupakan lulusan terbaik  dayah atau pesantren dalam negeri dan juga lulusan Al Azhar Kairo mesir.