Cerpen "Ternyata Hanya Mimpi"
Spread the love

TERNYATA HANYA MIMPI

Oleh: Wan Dian Armando

Sejak tadi malam aku gelisah. Mata terasa sulit dipejamkan. Sebenarnya ini bukan hal baru bagiku. Sejak masih duduk di bangku kuliahpun, aku sudah terbiasa begadang,terkadang karena harus mengejar deadline tugas tapi lebih sering hanya ngobrol ngalor ngidul bersama kawan-kawan satu kos. Sejenak khayalanku melayang ke masa 30-an tahun silam. Masa dimana aku bebas mengekspresikan semua yang terlintas dipikiranku. Dengan ideologi mahasiswa yang masih suci kala itu, hampir setiap hari disela-sela jadwal kuliah ku habiskan waktu untuk memikirkan dan melakukan banyak aksi nyata agar masyarakat –minimal yang tinggal di sekeliling kampus- merasakan manfaat dari keberadaanku di kampus tercinta ini. Betapa indahnya masa-masa itu, bersama kawan-kawan dengan latar belakang keilmuan berbeda namun memiliki semangat yang sama, kami menyelesaikan banyak agenda maha penting yang mungkin bagi sebagian orang sangat revolusioner untuk tataran masa itu.

Azan subuh menyadarkanku dari lamunan. Ku lihat istri dan anak-anakku masih tertidur pulas. Lalu ku bangunkan mereka, dan seperti biasa, aku mengajak putraku untuk shalat berjama’ah di Masjid Kampus. Ritual Subuh berjama’ah selesai, dilanjutkan dengan kajian tafsir Al-Qur’an  yang memang rutin diadakan setiap Minggu subuh di masjid ini. Di pertengahan kajian tafsir itu, ku lihat putraku mulai tak sanggup menahan kantuknya, dan aku membiarkannya tertidur pulas di pangkuanku. Tak berapa lama kemudian, kajian pun selesai. Setelah beramah tamah sejenak dengan beberapa jama’ah lain yang duduk di dekatku, aku pun beranjak pulang ke rumah. Untunglah rumah dinas yang ku tempati sekarang terhitung dekat dengan Masjid Kampus, sehingga tak sampai 10 menit berjalan kaki sambil menggendong belakang putraku, kami sampai di rumah.

Mataku yang sejak semalam belum istirahat, masih saja terasa segar dan belum memberikan tanda-tanda lelah. Akhirnya ku putuskan untuk bersepeda, yang merupakan kegiatan rutinku setiap pagi hari libur kecuali sedang bertugas keluar kota. Bersama istri dan anak-anakku, kami memulai aktivitas bersepeda pagi itu. Biasanya kami hanya berkeliling di lingkungan kampus saja, tapi entah mengapa, hari itu putraku ngotot mengajak kami bersepeda sampai ke Simpang Mesra. Karena ku pikir tidak ada yang salah dengan ajakan putraku ini, kamipun akhirnya memulai petualangan bersepeda pagi itu. Udara pagi di lingkungan kampusku yang cukup hijau ini memang sangat menyegarkan. Sambil bercanda ria kami mengkayuh pedal sepeda masing-masing. Sesaat kemudian, pemandangan yang semula sejuk dan menyegarkan mata berubah total karena di persimpangan tepatnya Gerbang Timur kampusku, kami melihat segunung sampah beraneka ragam yang berserakan tak karuan, dihiasi dengan rubungan lalat dan mengeluarkan aroma yang sangat tak sedap.

“Banyak sekali, sampah siapa aja ni, yah?” komentar putriku. Berat lidahku untuk menjawabnya. Demi tidak mengecewakan putriku, “Mereka yang tak bertanggung jawab!” jawabku sekenanya. Kami terus bersepeda menyusuri jalanan kampus hingga keluar ke jalan umum. Sepanjang jalan kami melihat pemandangan yang tak kalah memuakkan dari yang kami lihat tadi. Hampir diseluruh sisi jalan pagi itu, kami mendapati tumpukan sampah. Sungguh pemandangan yang tak pernah ku jumpai selama melanjutkan pendidikan di Negeri Matahari Terbit. Sepanjang jalan putra putriku sibuk membahas masalah sampah yang baru kali ini mereka perhatikan dengan seksama. Beberapa kalimat yang mereka lontarkan malah terkesan jauh lebih dewasa dari usia mereka saat ini. Sejak detik itu, sebagai orang yang duduk di puncak teratas kepemimpinan Kampus Jantong Hatee rakyat Aceh, aku berjanji akan melakukan segala upaya untuk mengendalikan masalah sampah ini. Karena ku yakin, jika masalah sampah bisa terselesaikan, maka masalah lingkungan hidup yang lain akan mudah teratasi.

Hari-hari berlalu seperti biasa. Aku terus disibukkan dengan banyak agenda persiapan menjelang kedatangan Tim BAN-PT yang sangat ku harapkan -dan ku pikir ini adalah harapan seluruh civitas akademika kampus ini- akan memutuskan untuk memberikan Akreditasi A kepada kampus kami tercinta. Karena segudang aktivitas yang sangat menguras tenaga dan pikiran itu, aku hampir lupa dengan kejadian Minggu pagi beberapa waktu yang lalu. Sampai pagi itu, aku menerima surat dengan kop Bayangan Tunas Kelapa yang dikirim langsung oleh Kwartir Nasional di Medan Merdeka Timur, Jakarta. Mulanya aku menyisihkan surat itu, karena kupikir surat itu salah alamat. Semua hal yang berkaitan dengan kegiatan mahasiswa, biasanya langsung ditangani oleh Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan. Namun, karena surat itu datang dari induk satu-satunya organisasi kepanduan di Indonesia, akhirnya ku sempatkan untuk membaca isinya. Ternyata inilah langkah awalku untuk memulai aksi lingkungan hidup yang sempat ku sumpahkan dalam hati beberapa minggu yang lalu.

Sesuai dengan jadwal, sore itu aku menjejakkan kaki di depan Gerbang Pusdiklatnas Gerakan Pramuka di Komplek Taman Rekreasi Wiladatika Cibubur, Jakarta Timur. Setelah menyelesaikan registrasi ulang, aku resmi menjadi satu-satunya yang mewakili Aceh untuk Semiloka Juknis Pramuka Patriot Lingkungan. Sejak upacara pembukaan hingga hari terakhir kegiatan, aku betul-betul tersadarkan akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan hidup. Materi, simulasi bahkan kunjungan langsung yang dilaksanakan dalam rangkaian kegiatan itu membuatku sangat bersemangat untuk memulai banyak hal baru sekembalinya dari kegiatan ini. Selama kegiatan berlangsung, kami betul-betul dipaksa untuk tidak nyampah sedikitpun. Panitia memberikan botol minuman kepada seluruh peserta untuk mengatasi masalah sampah botol minuman plastik. Semua makanan dihidangkan dengan self service ala France Dinner. Sehingga seluruh peserta dipastikan tidak menghasilkan sampah plastik selama kegiatan berlangsung. Aku sudah menyaksikan ribuan fakta masalah lingkungan hidup, khususnya sampah yang dipaparkan oleh para pemateri. Aku pun terharu ketika menyaksikan video Severn Suzuki, seorang gadis 12 tahun yang berpidato tentang isu lingkungan di depan Sidang Umum PBB tahun 1992. Aku kagum melihat perkampungan di daerah Tangerang yang berhasil mengelola Bank Sampah dan IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah) dengan cukup sukses. Belum lagi menyaksikan betapa sigapnya siswa siswi sebuah SD IT di Tangerang yang berhasil mengolah sampah sekolahnya sendiri, memanfaatkan lahan kosong untuk budidaya jamur dan beraneka tanaman obat, memanfaatkan air pembuangan AC untuk sirkulasi air kolam ikan mini yang mereka bangun di sudut halaman kelasnya. Sungguh aku merasa malu pada diriku sendiri.

Tidak terasa, seminggu sudah berlalu. Saatnya aku bersama teman-teman dari perwakilan seluruh Indonesia yang mengikuti semiloka ini untuk kembali ke daerah masing-masing. Waktunya untuk kembali ke kampus dan mengaplikasikan semua ide yang tertancap di kepalaku. Demi menjaga ide-ide segar yang terus mengalir di kepala, sejak pesawat tinggal landas ditemani cuaca yang kurang bersahabat diluar kabin pesawat, aku mulai mencatat ide-ide itu di buku saku. Aku akan mulai dengan rapat senat yang membahas “Kampus Ramah Lingkungan”. Setiap mahasiswa baru diberikan sebatang bibit pohon dan botol air minum. Pohon itu harus ditanam dan dirawat dititik yang telah ditentukan. Setiap akhir semester harus ada laporan pertumbuhannya. Tumbuh tidaknya pohon ini menjadi salah satu syarat sidang sarjana. Botol minum dimaksudkan agar kawasan kampus bebas sampah botol plastik. Karena jika kebijakan ini berjalan, ada lebih dari 20000 botol plastik yang dihemat setiap harinya. Kebijakan ini diikuti dengan kewajiban bagi setiap pengelo gedung kampus untuk menyediakan sarana isi ulang air minum gratis.

Secara bertahap, seluruh dosen harus menerapkan sistem bimbingan skripsi digital, maksudnya koreksi tugas akhir dilakukan com by com sehingga menghemat penggunaan kertas. Sistem ini juga berlaku bagi pelaporan KKN, PPL, KP dan sejenisnya. Sesuai penelitian para ahli, membuang selembar kertas sama dengan menebang sebatang pohon sia-sia. Setiap seminar atau kegiatan sejenis yang menghimpun banyak orang, harus menerapkan prinsip zero plastic dengan jalan menggantinya ke arah self service ala France dinner. Sehingga seluruh peserta dipastikan tidak menghasilkan sampah sedikitpun setelah kegiatan selesai. Kampus menyediakan 3 jenis tong sampah (organik, anorganik, B3) di titik-titik yang mudah dijangkau. Pimpinan fakultas harus secara bertahap dan berkelanjutan memastikan gedungnya mengarah ke prinsip ramah lingkungan. Mulai dengan membuat ventilasi ruangan yang memadai untuk mengurangi penggunaan lampu dan AC hingga menyiapkan IPAL yang maksimal. Selanjutnya, menerapkan Hari Kampus Bebas Kendaraan Bermotor (Car Free Day on Campus) dengan memaksimalkan bus lintas kampus. Melalui ini, suatu hari nanti diharapkan kampus kami betul-betul bebas kendaraan bermotor setiap harinya. Membina Bank Sampah Kampus yang secara bertahap akan diterapkan di pemukiman sekitar kampus. Bersama UKM-UKM yang telah ada, kampus akan memberdayakan gampong-gampong yang bertetangga langsung dengan kampus untuk mengaplikasikan konsep 3G (Gampong Go Green) sekaligus mengurangi kesenjangan sosial yang ada di lingkungan sekitar kampus.

Tak terasa sudah hampir lima halaman buku saku ku coret-coret. Saat aku akan membuka halaman berikutnya, tiba-tiba lampu kabin yang sejak tadi padam mendadak dinyalakan dan semua pramugari terlihat berjalan tergesa-gesa. Dari speaker aku mendengar himbauan agar seluruh penumpang tetap tenang dan diminta untuk mengenakan pelampung yang ada di bawah kursi masing-masing. Selang pernafasan daruratpun telah keluar secara otomatis dan para pramugari membantu kami untuk mengenakannya. Kabin pesawat terasa bergoncang keras dan dari jendela disamping kiriku, aku melihat baling-baling pesawat berhenti berputar yang menandakan mesin kiri tidak berfungsi. Seluruh penumpang panik, anak-anak dan perempuan menjerit bercampur tangis. Seluruh penumpang terdengar berdo’a memohon ampun dari segala dosanya. Sesaat kemudian aku mendengar ledakan yang cukup keras dibagian ekor pesawat dan aku merasakan panas yang tak terhingga. Sambil menjerit sekuat tenaga, seketika tubuhku terasa melayang dan terhempas sangat keras. Aku tersentak bangun karena merasakan tamparan yang sangat keras di pipiku. Ketika ku buka mata, ku dapati diriku tergeletak diatas tumpukan buku dan surat kabar yang berserakan. Laptopku masih menampilkan Daftar Pustaka dari Proposal Skripsi yang sedang ku tulis. Lalu teman sekamarku tertawa sambil menampar-nampar perlahan pipiku, “Mimpi apa, Wak..?”. Sambil tersenyum aku menjawab, “Ternyata Hanya Mimpi”.