Hadirkan Mau’izhah Hasanah Dalam Mengajar
Spread the love

 

Oleh : Rauzatul Jannah

Guru Bahasa Arab SMP Plus Al Athiyah

“ Sungguh beruntung dan bahagianya menjadi seorang guru yang kehadirannya selalu dinanti, kharismanya  dirindui, diamnya disegani, nasehatnya disukai, kepergiannya ditangisi, dan ilmunya selalu melekat di hati”

“Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif  mengembangkan potensi dirinya agar memiliki spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara”. (UU Sisdiknas pasal 1 ayat 1).

Pendidkan adalah sebuah dunia yang lahir dari ahim kasih sayang. pendidikan harus berlangsung dalam suasana kekeluargaan dengan pendidik sebagi orang tua (guru) dan murid sebagai anak. Pendidikan dilakukan dengan hati lewat ungkapan kasih sayang, keikhlasan, kejujuran, keagamaan, serta suasana kekeluargaan.

Berbicara mengenai pengajar/guru sama halnya kita berbicara mengenai orang tua. Dimana guru mempunyai peran yang sama dengan orang tua dalam hal mendidik anak menjadi generasi yang berguna bagi bangsa dan negara. Guru adalah sosok pahlawan yang tanpa lelah mentransferkan  ilmunya kepada muridnya. Guru sering disebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, mengapa demikian? Karena sejatinya pahlawan tanpa tanda jasa itu adalah guru yang mengajak muridnya kepada kesuksesan, meraih kemenangan tidak hanya kemenangan dunia tapi juga kemenangan di akhirat kelak.

Bagaimana seorang guru bisa dikatakan pahlwan untuk muridnya?. Seorang guru tidak hanya dituntut untuk mencerdaskan murid-muridnya namun guru juga dituntut untuk menjadi qudwah bagi mereka. Sudah seharusnya seorang guru memberikan qudwah yang baik bagi murid-muridnya baik dari sisi ilmu atau sisi moral. Selain mencerdaskan guru juga bisa membentuk karakter mereka dengan cara-cara tertentu. Banyak cara atau jalan yang bisa ditempuh soeorang guru dalam mengajar yang sekaligus membentuk karakter mereka menjadi lebih baik. Salah satu metode yang cocok dan tepat digunakan guru dalam mengajar adalah metode Mau’izhah Hasanah. Mau’izhah hasanah adalah mengajak atau membimbing orang lain dengan cara yang baik, dan dengan perkataan yang baik. Metode ini merupakan salah satu metode yang digunakan oleh seorag da’i dalam menjalani dakwahnya. Karen jika seorang da’i tidak menerapkan metode ini, maka akan pasti mad’unya tidak mempunyai efek apa-apa dari yang disampaikan. Karena tugas seorang da’i tidak hanya mengajak kepada kebaikan, tetapi ia juga harus mencontohkan kebaikan itu. Begitu juga dalam ranah pendidikan, dimana guru disini berperan sebagai da’i dan murid sebagai mad’unya. Dan sudah sepantasnyalah seoang da’i mengajak madunya kepada kebaikan dengan kasih sayang dan penuh kelembutan. Dan yang pasti, islam tidak mengajarkan pola pendidikan dengan cara kekerasan. Sebaliknya, islam justru sangat menekankan pola pendidikan yang lemah lembut.

 

Sebagaimana firman Allah swt dalam Al-Quran:

ادع الى سبيل ربك بلحكمة والموعظة الحسنة وجا د لهم بالتي هي احسن ان ربك هو اعلم بمن ضل عن سبيله وهو اعلم بالمهتدين

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengn hikmah dan pengajaran yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk”. ( Q.S. An-Nahl : 125)

Ayat diatas menjelaskan bahwa dalam menyeru suatu kebaikan dibutuhkan kasih sayang dan kelembutan untuk  membawa mereka menuju kebaikan itu. Mengajar dengan hati dan penuh kelemah lembutan lebih dibutuhkan murid dari pada mengajar dengan kekerasan. Kasih sayang dan kelembutan merupakan suasana yang sangat didambakan murid, karena suasana seperti ini akan menyejukkan jiwa mereka, dan kedekatan hubungan guru dengan murid dapat mereka rasakan. Kasih sayang adalah fitrah kemanusiaan. Kasih sayang dimanifestasikan melalui komunikasi dan perlakuan yang bernuansa kelembutan. Alangkah baiknya guru bisa menerapkan mau’izhah hasanah dalam mengajar. Salah satu tujuan menerapkan mauizhah hasanah dalam proses belajar mengajar yaitu agar guru tidak mengajar dengan ketegasan yang berlebihan atau cenderung keras. Mengingat kemampuan murid yang pastinya berbeda-beda. Ada yang daya ingatnya kuat, ada juga yang daya ingatnya kurang kuat. Oleh sebab itu, guru harus lebih bersabar dalam mengajar.

Mengajar dengan kasih sayang dan penuh kelembutan akan memberikan efek positif kepada murid. Rasulullah sendiri telah mencontohkan sikap lemah lembut dalam memperlakukan (mendidik) anak-anak. Sebab, bagi seorang anak/murid kelembutan dan kasih sayang orang tua ataupun guru merupakan sumber kekuatan yang dapat menggugah perasaannya. Kehangatan yang diberikan akan melahirkan ketenangan, kepercayaan, juga hubungan batin yang kuat antar anak dengan orang tuanya, juga hubungan batin antara seorang guru dengan muridnya.  Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda “ Hendaklah kamu bersikap lemah-lembut, kasih sayang, dan hindarilah sikap keras dan keji” ( HR. Bukhari).

Dengan memberikan kasih sayang yang tulus, maka potensi anakpun akan berkembang. Mereka akan lebih percaya diri dalam mengembangkan potensinya. Adapun mengajar dengan ketegasan yang berlebihan akan memberikan nampak negatif bagi murid. Tanpa kasih sayang dari guru kepada murid, maka hubungan diantara mereka akan tidak harmonis dan mudah patah. Ada kalanya murid susah memahami suatu materi dikarenakan sikap gurunya yang tidak menghadirkan mau’izhah hasanah dalam menyampaikan materi, yang membuat muridnya takut dan tidak berani bertanya. Hal yang demikian harus dihindari oleh para guru supaya tidak terkesan sebagai Guru Killer. Sering sekali julukan Guru Killer ditujukan kepada guru yang dalam proses mengajar ia belum bisa menghadirkan mauizhah hasanah, yaitu mengajar dengan kasih sayang dan penuh kelembutan.