MENJADI GURU MILENIAL UNTUK GENERASI MILENIAL
Spread the love

Sepanjang sejarah kehidupan di dunia ini, sudahlah kepalang pasti peradaban pun terus berubah pesat seiring dengan kemajuan perkembangan pikiran otak manusia tak terkecuali di bidang teknologi dunia digital. Kecanggihan-kecanggihan teknologi membuat perubahan yang begitu pesat terhadap kehidupan manusia, semua pekerjaan yang sulit menjadi terasa sangat mudah dan gampang dengan bantuan teknologi. Di samping itu juga efek dari tekhnologi juga membuka banyak job occupation baru dan menutup sebagian besar job occupation yang lama. Indonesia salah satu negara yang merasakan hal ini, era dimana terjadinya konektivitas nyata antara manusia, mesin dan data atau kata lainnya kita saat ini sedang di hadapkan dengan revolusi industri 4.0 dengan tampa kita sadari semua aktivitas kehidupan sehari-hari kita di back-up oleh kecanggihan teknologi seperti online shopping, Go-jek online, google map dalam membantu kita mencari alamat dan masih banyak lagi yang lainya semua bisa terselesaikan dengan mudah hanya dengan bantuan teknologi. Peserta didik hari ini adalah peserta didik milenial yang sudah terbiasa dengan arus dunia digital teknologi dan informasi, bisa di bayangkan betapa peliknya seandainya tidak ada keselarasan kemampuan dan persiapan dalam menghadapi nya, maka semua kita akan tenggelam dalam ketertinggalan menghadapi dunia milenial revolusi industry 4.0. Oleh karena itu, persiapan SDM dalam menghadapi hal tersebut sangatlah penting, terlebih bagi kita yang berprofesi sebagai seorang guru. Sangat jelas terlihat perbedaan pola fikir anak zaman old dan anak milenial saat ini, anak zaman dahulu penuh dengan mimpi, ilusi dan pola fikir yang terbilang sempit dan terbatas, sebagai contoh dahulu kalau kita tanya pada seorang anak ,” Nak cita-citanya mau jadi apa?”jawaban mereka pasti “ mau jadi dokter, jadi guru, mau jadi pilot, atau polisi, jawaban yang sama seperti itu yang akan kita temui pada satu anak dan anak lain nya, tapi coba hal itu kita tanyakan pada anak zaman now, anak milineal, Nak cita-citanya mau jadi apa?”Mereka pasti akan menjawab dengan jawaban yang tak kita duga-duga “mau jadi youtuber, hacker, programmer, macam-macam job occupation terbaru akan kita dengar dari mulut mereka (he..he..he..) itu berarti mutu sekolah harus mampu menjawab tantangan arus revolusi yang mereka rasakan dan harus mencetak lulusan yang mampu menjawab dan menghadapi tantangan revolusi industri 4.0 saat ini dengan guru sebagai tombak terdepan dalam mempersiapkan SDM anak bangsa maka dari itu guru lah yang menjadi loncatan dan jembatan pertama anak-anak negeri ini dalam menghadapi segala kegalauan yang ada. Menimbang masalah tersebut seorang guru harus terus mengupgrade kompetensi sehingga mampu menghadapi peserta didik generasi milenial. Jangan sampai anak-anak milenial kembali ke zaman kolonial karena ketertinggalan kemampuan guru atau istilah lain anak milineal industri 4.0 belajar dalam ruang lingkup industrui 3.0 dan di ajarkan oleh guru 2.0 atau bahkan guru 1.0. Sungguh hal yang sangat menyedihkan, padahal anak-anak sudah siap menghadapi kemajuan era milineal dengan fikiran kritis dan kreatif  , eh malah guru nya yang tak siap dan sigap (hee waspadalah)…. Jika hal ini terjadi maka pendidikan kita akan terus tertinggal di bandingkan dengan kesiapan negara-negara lain. Jack Ma (CEO Alibaba Grup) menyatakan ”bahwa pendidikan adalah tantangan besar saat ini. Jika tidak mengubah cara mendidik dan cara belajar mengajar, maka 30 tahun akan datang kita akan mengalami kesulitan yang besar”. Pendidikan saat ini yang kita lihat sarat akan pembelajaran pengetahuan dan mengesampingkan keterampilan. Padahal secara berkala hal itulah yang sangat membantu peserta didik kelak sehingga mampu bersaing dengan mesin dan bahkan menciptakan mesin-mesin baru atau robot-robot baru. Sebagai seorang guru milenial yang mengharapkan perubahan besar, yang perlu kita persiapkan untuk mencetak generasi milenial yang mampu bersaing dengan dunia adalah:

  1. Mengubah pola fikir dan sikap generasi milenial

Sejauh ini dapat kita lihat, hampir di semua sekolah di Indonesia guru terlalu di sibukan dengan urusan peserta didik yang tak disiplin, membangkang dan bahkan melakukan tindakan-tindakan yang anarkis yang seharusnya ini tidak lagi terjadi pada industri 4.0 yang dimana pada detik ini juga para peserta didik di belahan negara lain sudah sibuk dengan berbagai keterampilan-keterampilan yang mereka miliki. Kalau lah urusan seorang guru itu-itu saja kapan kita akan berkembang seperti negara lain. Oleh karenanya menanamkan kesadaran diri dengan menyusun strategi untuk mengubah pola fikir dan sikap perlu dilakukan seorang guru terhadap peserta didik sehingga tertanam di jiwa mereka betapa pentingnya belajar di zamanmilenial seperti sekarang dan membuat mereka sibuk dengan berbagai kreatifitas.

  1. Pembelajaran yang kontekstual (contextual teaching learning)

Pembelajaran di kelas saat ini hanya berupa pengetahuan materi dan materi. Hal tersebut terbilang pasif dalam menckiptakan anak-anak yang kritis dan kreatif. Belajar dengan konteks yang didadapi lebih membuat anak-anak berfikir kreatif, kritis dan inovatif. Sebagai contoh saat ini jika seorang guru matematika mengajarkan mencari jari-jari sebuah lingkaran yang menuliskan rumus di papan tulis akan terkesan suatu pelajaran yang kaku dan mengerikan yang padahal jika saja konteks nya di ubah itu akan menjadi suatu pembelajaran yang menyenangkan misal dengan membawakan mereka satu buah jeruk yang kemudian jeruk itu di belah lalu ditemukan lah hasil nya, jadi rumus tercipta dari konteks yang ada bukan untuk di hafal apalagi di ingat-ingat sampai tua yang itu menjadi momok mengerikan sehingga anak milenial tiba-tiba berubah menjadi anak pasif yang terhambat perkembangan kompetensinya. Itulah makanya perlu nya pembelajaran sesuai konteks yang ada ( real life). Juga pembelajaran tidak hanya di kelas dan di ruang lingkup sekolah, belajar  tidak mengenal ruang dan waktu karena dengan belajar itu bahagia dan menyenagkan, itulah belajarnya anak milenial, yang semua dalam konteks kehidupan mampu di analisis dan di konsumsi untuk menjawab tantangan industri.

  1. Pembelajaran Teknologi informasi dan komunikasi ( TIK)

Di era revolusi industri milenial 4.0 saat ini, pendidikan yang sangat di perlukan adalah pendidikan yang mampu membentuk generasi menjadi kreatif, inovatif, dan kompetitif. Hal itu bisa cepat di capai dengan menggunakan sarana teknologi seperti computer dan internet sebagai alat bantu pembelajaran yang optimal. Sebagai guru yang professional di abad ini, wajib bagi seorang guru menguasai dunia TIK sebagai sarana utama mencapai pendidikan yang bergengsi dan milenial . Bisa di bayangkan alangkah di sayangkan jika masih ada guru yang gaptek (gagap teknologi) padahal anak-anak yang kita hadapi anak-anak yang sudah memiliki daya fikir canggih terhadap industri itu sendiri. Sebagai contoh beberapa waktu lalu seorang siswa kelas II MTs bernama Putra aji adhari asal Kreo Jakarta selatan yang mampu membobol situs NASA dan juga situs KPU. White hacker ini bisa saja menjadi black hacker kalau kompetensi yang ia miliki tak di arahkan. Itulah betapa penting nya seorang guru harus lebih menguasai bidang ilmu yang di ajarkan kepada peserta didik, apalagi seperti di zaman milenial saat ini, baik itu teoritis maupun practical agar kita bisa mewaspadai dan menimalisir segala sesuatu yang tak diinginkan terjadi. Namun dengan kegigighan dan keberhasilan seorang guru akan bisa membawa nya mencapai prestasi gemilang, seperti Putra aji adhari yang berkat kemampuan nya menjadi white hacker sejak di bangku Mts berhasil memperoleh beasiswa hingga perguruan tinggi.

  1. Focus pada satu tujuan anak

Setiap anak memliki kekurangan dan kelebihan masing-masing dan itu fitrah sejak lahir. Sebagai guru yang bijak di abad milenial, kita tidak boleh menuntut dan memvonis semua anak untuk bisa menguasai semua materi pelajaran dengan pelajaran yang berbeda-beda pula.  Dalam menghadapi dunia saat ini konsep keberhasilan yang harus dimiliki setiap individu adalah banyak mengetahui hal yang sedikit bukan sedikit mengetahui hal yang banyak. Jika konsep ini kita realisasikan pada setiap peserta didik maka satu ilmu yang kita bekali namun mereka telah mahir pada bidang nya, maka itu akan bisa menembus langit dalam menjawab tantangan-tantangan kehidupan. Begitu sebalik nya, semua ilmu di pelajari tapi tidak ada satu bidang pun yang bisa menjadikan ia expert maka semua nya akan sia-sia tak terpakai (useless). Jadi, biarkan anak berkembang pada satu bidang yang ia sukai dan terus di arahkan sejak dini.

  1. Sekolah menyajikan sarana-prasarana yang mutakhir

Di samping memperbaiki kompetensi guru dan peserta didik, sekolah juga merupakan sarana yang terpenting dalam memajukan kompetensi generasi yang mampu bersaing. Oleh karena nya sekolah harus benar-benar memiliki sarana-prasarana yang mutakhir dan komplit yang mampu mengiringi proses pembelajaran anak milenial untuk berfikir kritis dan kreatif juga membuat proses pembelajaran terkesan mahal dan menakjubkan. Bagaimana mungkin sebuah sekolah bisa melahirkan anak yang mutakhir kalau di sekolah itu sendiri tidak terdapat sarana yang mampu mengarahkan anak pada titik keberhasial di era industri 4.0 tentunya ini menjadi PR terpenting untuk system pendidikan di negeri ini, mengadakan sarana-sarana pembelajaran digital yang inovatif di setiap sekolah.

Keberhasilan seorang murid adalah keberhasilan seorang guru, menjadi guru milenial untuk anak milenial dalam menghadapi revolusi industry 4.0 adalah dengan menciptakan anak-anak berfikir kreatif, inovatif, kritis , kolaboratif  dan kompetitif sehingga mampu bersaing dalam menjawab tantangan zaman.  ^.^

 

Written by an English teacher : Fauziah Nur, S.Pd